Persoalan Literasi Saat Ini Antara Peningkatan Indeks Literasi, Korupsi dan Budaya Baca Dunia
Sumber Gambar :Persoalan Literasi Saat Ini
Antara Peningkatan Indeks Literasi, Korupsi dan Budaya Baca Dunia
Oleh : Rahmat Heldy HS
Kita belum bisa disebut sebagai manusia seutuhnya
sebelum kita punya karya dan mampu mengubah dunia
Sering kita mendengar hal-hal yang dapat menghambat laju gerak literasi itu adalah keterbatasan akses buku, matisurinya perpustakaan-perpustakaan yang ada di desa atau di kampung. Ditambah lagi belum berpihaknya kebijakan pemerintah dalam hal ini Undang-Undang Perbukuan, misalnya. Serta, para pemangku kebijakan yang belum sepenuhnya ikut andil terhadap gerakan besar literasi di negeri ini. Tetapi, dari diskusi-diskusi yang kita bicarakan di atas. Sesungguhnya ada hal yang cukup besar penghambat laju gerak literasi di negeri ini adalah korupsi. Korupsi tidak sekadar mencuri uang rakyat, akan tetapi membuat citra buruk bangsa dan akhirnya ditiru oleh para oknum yang lain untuk melakukan korupsi baru yang pada akhirnya uang tidak lagi digunakan untuk kepentingan masyarakat, tetapi untuk kepentingan pribadi dan golongan. Dilain sisi, rusaknya lingkungan alam seperti pengrusakan hutan, gunung, laut, ladang dan sawah menambah berat tantangan literasi kita dimasa yang akan datang. Juga rusaknya alam pikiran generasi bangsa kita. Serta kurangnya figuritas sosok literer masa kini yang bisa dijadikan panutan bagi generasi milenial. Baik ditataran masyarakat atau pun pejabat publik. Padahal semakin banyak icon individu-individu atau pejabat publik yang literat, maka akan semakin banyak role model bagi masyarakat untuk mencontoh siapa dan akan menjadi apa, masa depan mereka. Sayangnya, itu semua masih sangat minim.
Banten yang menduduki posisi ke sembilan dalam perspektif penilaian Indeks Kegemaran Membaca yang dirilis oleh Perpustakaan dan Kearsipan Nasional pada tahun 2020 dengan perolehan angka 58,77 masuk dalam kategori rata-rata nasional. Masih sangat perlu dan berjuang keras untuk terus bisa mengejar ketertinggalan ini. Paling tidak, karena Banten tetangga dari Ibu Kota Jakarta harus berada di urutan ketiga. Belum lagi, jika Banten dilihat dari Indeks Pembangunan Literasi (IPL) berada diurutan ke lima terbawah tingkat nasional dengan angka 8,90 dengan item yang dinilai adalah ketercukupan tenaga perpustakaan, perpustakaan berstandar nasional dan koleksi buku perpustakaan.
Data-data di atas adalah persoalan yang ada di tengah-tengah dunia keliterasian kita. Tetapi, sejatinya persoalan literasi itu, ada juga diluar itu semua. Beberapa diantaranya kurangnya figuritas tokoh-tokoh literasi masa kini, baik dari kalangan orang tua maupun anak muda. Kemudian berita-berita keliterasian kita saat ini yang sedang naik, kemudian terjun bebas dengan pemberitaan-pemberitaan miring dan juga merusak mental dan karakter. Contoh, Banten sedang menjadi sorotan nasional dengan jabatan Duta Baca Indonesia yang dulu dijabat oleh para artis dan presenter televisi, seperti Tantowi Yahya, Andi F Noya dan Najwa Shihab. Ketika euphoria dan ketakjuban itu jatuh pada Gol A Gong penulis asal Banten yang cacat permanen tangannya atau berlengan satu. Langsung saja tergusur dengan berita-berita esek-esek di kolam pemandian Pandeglang sana, serta tidak kuatnya masyarakat Banten untuk tidak mengunjungi tempat-tempat liburan yang dijaga ketat aparat karena covid – 19. Tetapi, tetap memaksa berbondong-bondong ke tempat liburan, sehingga berita media sosial ramai caci-maki warganya yang tidak bisa berjualan dihari liburan Idul Fitri. Kemudian ketika Banten merayakan Festival Hari Buku Nasional yang diadakan di Kampus Untirta pada tanggal 26 -30 Mei. Tiba-tiba menyeruak kasus Bantuan sosial untuk pesantren yang dikorupsi oleh oknum. Belum lagi sekarang muncul kasus baru lagi ramai-ramai pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengundurkan diri setelah dinyatakan korupsi masker. Ampun Biyung…, Literasi di Banten jatuh bangun antara gerakan peradaban membangun generasi emas. Dengan pemberitaan korup yang nampaknya sulit untuk surut. Entah akan ada berita miring apa lagi kedepan.
Di Banten literasi bergerak di antara hidup dan mati. Menyelamatkan anak-anak generasi bangsa ini agar mereka memiliki ilmu pengetahuan dan mampu bertahan di tengah gempuran peradaban. Salah satunya adalah gempuran teknologi yang sudah banyak menggelincirkan ana-anak negeri ini yang melupakan tugas intinya untuk belajar, tetapi kita semua gagap dan belum siap dengan percepatan teknologi. Sehingga euphoria teknologoi lebih banyak dipakai untuk hiburan; main game, tiktok, FBan, Wa-an bahkan juga judi online yang keluar dari batas kewajaran kita sebagai manusia pembelajar. Maka peran literasi masih sangat dibutuhkan dan masih sangat besar untuk meluruskan tujuan awal pendirian Banten dan Bangsa ini, apalagi bila disandingkan semboyan Banten “Iman dan Taqwa Menuju Banten, Mandiri, Maju dan Sejahtera,” masih sangat jauh perjuangan literasi di bumi para santri ini.
Sepanjang perjalanan penulis sebagai Duta Baca Banten dan juga Instruktur Literasi nasional. Eksostisme literasi itu sesungguhnya akan terasa dampaknya bila pergerakannya di kampung-kampung dan di desa-desa yang jauh dari pusat kota. Literasi dibangun atas dasar keinginan sendiri dan gotong royong. Tak ada pencitraan apalagi menyangga uang proyek. Berjalan alami dan tidak perlu ada yang ditutupi. Dampak literasi akan terasa bagi mereka untuk menjaga ekosistem kampung, menjaga adat dan diupayakan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi lingkungan dan hutan. Tidak menebang, mengeruk atau membakar hutan.
Maka dalam situasi yang terus berbenah ini, baik dari sisi situasi pandemi dan ketertinggalan kita sebagai sebuah bangsa yang literat, Perpusnas sangat getol melakukan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan indek literasi masyarakat. Semua stakeholder mulai dari para pegiat litrerasi, Forum-forum Taman Bacaan, Sekolah, para Duta Baca dan juga pejabat pemerintah, sejatinya harus mampu menggerakan literasi ini sebagai bentuk perwujudan dan perlawanan atas nama ketertinggalan. Anak anak harus duduk bersama dengan orangtuanya untuk bisa berkolaborasi memahami setiap pesan teks yang terkandung dalam setiap gambar dan bacaan. Jangan sampai anak dilahirkan dari perut ibunya lalu dibesarkan otaknya lewat gawai yang tidak semua mengandung pesan positif. Guru-guru di sekolah harus bersatupadu menggerakan semua para siswanya untuk kembali mencermati setiap makna yang terkandung dalam literasi kita. Jangan sampai literasi terkesan tugas Guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Para Kepala Desa harus kembali mengaktipkan perpustakaan desanya untuk menjadi jembatan pengetahuan warga kampung yang ada di desa jika ada persoalan jarak dengan ilmu pengetahuan yang ada di kota. Para pegiat literasi selain menebar buku, harus juga aktip menulis dan mengeluarkan gagasannya agar setiap perjuangan yang dituliskan dapat dibaca motivasinya kepada setiap orang. Nah, dengan cara demikianlah semoga, pelan tapi pasti indeks literasi kita semakin meningkat.
Tak ada salahnya penulis ulas lima negara yang memiliki indeks literasi paling tinggi didunia, sumber : https://traveling.bisnis.com/read/20200518/224/1242142/ ini- 5-negara-dengan-budaya-dan–tingkat-membaca-yang-tinggi dengan penggubahan seperlunya. Di antaranya; Finlandia. Di Finlandia membaca sudah dijadikan budaya. Selain perpustakaan-perpustakaanya banyak dan orangtua yang aktif memberikan dongeng sebelum tidur. Di Finlandia tugas membaca bagi siswa sangat rutin, bahkan satu buku dalam satu pekan. Sementara di negara kita masih amat sangat sulit dan jauh tertinggal. Negara yang kedua adalah Belanda sama seperti Finlandia, Belanda menjadi salah satu negara yang menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Bayi-bayi yang ada di Belanda ketika berusia empat bulan otomatis mendapatkan formulir keanggotaan perpustakaan umum. Formulir keanggotaan yang dikirimkan ke rumah masing-masing bayi itu juga dilengkapi dengan seperangkat buku bacaan untuk bayi dan orangtuanya. Setelah formulir diisi dan diberikan ke petugas perpustakaan umum, barulah orang tua bisa mengajak bayinya dan meminjam buku secara cuma-cuma. Selanjutnya Negara Swedia Tak jauh berbeda dengan Finlandia, Swedia—yang termasuk dalam negara-negara Skandinavia—memberikan buku bacaan dalam paket bingkisan kepada keluarga yang baru memiliki bayi. Tentu tujuannya adalah menumbuhkan budaya membaca sejak dini. Tingginya minat membaca masyarakat Swedia terlihat dari ramainya perpustakaan umum yang tersebar di sejumlah titik keramaian seperti pusat perbelanjaan dan stasiun kereta api. Negara yang keempat adalah Australia Salah satu upaya Australia untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini juga dilakukan lewat pemberian buku dalam paket bingkisan untuk keluarga yang baru memiliki bayi. Hal tersebut pertama kali diimplementasikan oleh negara bagian New South Wales pada Januari 2019 yang kemudian diikuti oleh negara bagian Victoria pada Juli 2019. Adapun, jauh sebelumnya terdapat program tantangan membaca atau Reading Challenge untuk memotivasi orang tua menanamkan budaya membaca dalam keluarga, khususnya anak-anak. Ada beberapa program reading challenge yang bisa diikuti, seperti 1000 books before school, program tantangan membaca untuk anak usia 0-5 tahun dengan ketentuan harus menyelesaikan target membaca sebanyak 1000 buku sebelum usia anak menginjak 5 tahun. Sementara yang terakhir adalah Negara Jepang. Tingginya minat baca masyarakat Jepang terlihat dari kebiasaan yang dilakukan ketika menunggu atau naik angkutan umum. Alih-alih menggunakan gawainya seperti masyarakat Indonesia, mereka lebih memilih untuk membaca buku, majalah, atau surat kabar. Jika diperhatikan kebanyakan buku yang diterbitkan di Jepang didesain dalam ukuran kecil, ringan, dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, buku-buku terjemahan dari bahasa asing juga dapat dengan mudah ditemukan. Selain itu, ada kebiasaan unik dari mencerminkan tingginya minat baca masyarakat Jepang. Kebiasaan tersebut adalah “tachi yomi” atau datang ke toko buku untuk membaca layaknya datang ke perpustakaan pada malam hari.
Nah, itu adalah lima negara yang memiliki indeks literasi yang tinggi di dunia dan sudah dipastikan kelima negara itu adalah negara maju yang kehidupan masyarakatnya jauh lebih ideal dibandingkan kita. Semoga kita yang saat ini bergerak dalam gerbong literasi ini termotivasi dan menggerakan literasi untuk perubahan Banten, Indonesia bahkan juga dunia. Semoga!***
Penulis, Duta Baca Banten, dan instruktur Literasi Nasional. Aktif memberikan pelatihan-pelatihan penulisan, dan sering diundang dalam banyak kegiatan baik di tingkat provinsi maupun nasional. Sudah menulis 46 buku. Selain menulis ia juga menjadi conten creator di channel youtube miliknya, yakni di channel Youtube Rahmat Heldy HS.