Implementasi Literasi Digital Dan Budaya : Solusi Disinformasi Akibat Penebaran Hoax Di Era Digital


Oleh: Resha Hidayatullah*

           Pendahuluan

           Perkembangan teknologi digital memiliki dampak positif terhadap perkembangan keilmuan. Akses informasi sangat mudah di dapat pada era yang serba digital. Manusia saat ini dapat berkomunikasi dengan mudah untuk memperoleh keuntungan informasi yang diinginkannya, misalnya goggle schooler sebagai alat untuk mencari referensi terhadap keilmuan tertentu yang diinginkan oleh seorang peneliti, you tube sebagai media sharing keilmuan dan informasi yang bahkan bisa menjadi salah satu pengganti televisi untuk mendapatkan informasi berita dan tutorial-tutorial pengembangan bakat seseorang, ditambah dengan munculnya tik tok dan media sosial lain seperti instagram, dan facebook yang memadukan video dan interaksi sosial langsung untuk mempermudah seseorang mendapatkan akses informasi.

Generasi yang lahir di era millennial dan generasi z menganggap teknologi sebagai kebutuhan primer. Yang pada akhirnya mereka tidak bisa lepas dari belenggu teknologi informasi dan komunikasi. Generasi saat ini bisa dikatakan sebagai manusia-manusia Digital Native, dimana mereka telah terbiasa dengan struktur kognitif yang melompat-lompat, mampu melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini disebabkan oleh perkembangan arus globalisasi yang diakibatkan oleh pintu informasi dan komunikasi secara global yang terbuka luas dan terjadi secara instan, sehingga menyeret masyarakat secara cepat merubah pola interaksi sosial di segala bidang, dan pertukaran budaya merupakan hal yang paling mudah diambil oleh masyarakat (Pratiwi & Asyarotin, 2019).

Dibalik sisi Positif era digitalisasi yang mampu membuat generasi millennial dan generasi z lebih terbuka dalam pandangan politik dan ekonomi karena akses informasi lebih mudah, perkembangan teknologi juga mengakibatkan pengaruh negatif akibat oknum tertentu yang memiliki kepentingan untuk menyebarkan berita hoax atau fake news. Akibat dari penyebaran hoax ini melahirkan permasalahan disinformasi. Masyarakat lebih mudah menerima disinformasi karena penyebaran berita hoax yang masif secara online bisa beredar secara cepat dan mudah diterima. Meskipun permasalahan disinformasi ini mampu terselesaikan tentunya memiliki dampak dan kesan terhadap prilaku sosial masyarakat. Terutama mereka para generasi millennial atau generasi z yang menjadi pengguna media sosial yang fanatik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami tentang pentingnya literasi digital agar mampu membedakan jenis informasi yang dapat menyebabkan disinformasi serta menelusuri alasan dari penciptaan dan pendistribusian-nya.

Disinformasi sendiri dipahami sebagai penyampaian informasi yang salah, baik itu dilakukan dengan sengaja untuk membingungkan masyarakat atau tidak sengaja akibat tidak memahami informasi yang disampaikan akibat hanya melihat beberapa cuplikan informasi saja. Sehingga melahirkan struktur kognitif yang melompat-lompat. Disinformasi ini terjadi disebabkan oleh masyarakat yang mudah percaya dengan informasi yang didapat tanpa melihat atau mencari lagi sumber informasi yang asli. Disinformasi yang bisa menyebabkan perpecahan dan miskomunikasi di masyarakat harus bisa diatasi dengan baik, agar masyarakat terutama pada generasi millennial dan generasi z bisa lebih cerdas lagi, baik dalam menggunakan maupun mengomunikasikan informasi yang diperoleh di abad 21 ini.

Adapun hoax tersendiri dapat dipahami sebagai informasi yang direkayasa untuk menutupi keaslian informasi yang sebenarnya. Dengan kata lain hoax bisa diartikan sebagai upaya memutar balikan fakta, menggiring opini masyarakat seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Cepatnya informasi yang tersebar di media sosial menjadikan media sosial sebagai salah satu                     tempat yang subur tumbuhnya hoax.

Dalam sebuah literatur, hoax berpotensi besar menimbulkan konflik pada abad ke 17-an dan terus berkembang seiring perkembangan dan kemajuan teknologi informasi komunikasi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, maka masyarakat Indonesia perlu memahami pentingnya literasi digital. Di era pandemic Covid-19 menjadi puncak semua generasi terserat pada era digitalisasi untuk memenuhi kebutuhan komunikasi dan informasi bahkan pada aspek perdagangan dan ekonomi.

Untuk mengatasi fenomena diatas diperlukan kemampuan literasi terhadap dunia digital dan kebudayaan. Literasi sendiri bukan hanya kemampuan untuk membaca dan menulis, tetapi literasi bisa diartikan melek teknologi, politik, budaya, berpikir kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar (Pratiwi & Asyarotin,              2019).

Literasi selalu dipahami sebagai kemampuan dasar membaca, menghitung, dan menulis. Literasi dimulai sejak usia dini, masa kembangkan anak-anak dengan sikap yang baik. Namun seiring perkembangannya konsep literasi ditransformasikan menjadi seni memahami berbagai keterampilan untuk melihat sudut pandang yang berbeda dari bidang-bidang lain seperti munculnya literasi informasi, literasi kesehatan, literasi teknologi, literasi ekonomi, literasi budaya dan lain-lain. Literasi tidak lagi adil dianggap sebagai kemampuan dasar atau alat untuk mendukung proses studi akademis tetapi sudah menjadi faktor pendukung permintaan masyarakat untuk dapat mengakses informasi yang akurat, andal, dan kemampuan seseorang dalam pemecahan masalah dan etika sikap sosial dalam interaksi interpersonal kelompok dalam masyarakat.

Memahami Literasi Digital Dan Penebaran Hoax  Pada Media Sosial

Perlu dipahami bahwa aktivitas membaca merupakan modal awal berkembangnya aktivitas literasi. Kemampuan membaca diawali oleh kecintaan terhadap membaca itu sendiri. Lewat kecintaan membaca, selanjutnya berkembang menjadi kemampuan literasi di berbagai bidang seperti kemampuan literasi digital yang mencakup media digital secara sehat cerdas, dan bijak. Dengan memahami literasi digital mampu meredam konflik akibat penebaran berita hoax yang menyebabkan disinformasi.

Menurut Harianto dalam sebuah jurnal penelitian (Sari, 2023) bahwa literasi digital secara umum dipahami sebagai ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu dalam menggunakan teknologi untuk mengakses, mengolah, mengintegrasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara tepat dan bijak untuk membangun pengetahuan baru, membuat dan membangun komunikasi dengan orang lain supaya dapat aktif berperan dalam komunikasi dengan masyarakat. Adapun menurut Harjono dalam jurnal yang sama, menjelaskan bahwa literasi digital merupakan keterampilan dasar seseorang dalam menggunakan dan memproduksi media digital.

Sedangkan menurut UNESCO sendiri dikutip dari (Restianty, 2018) menyampaikan “kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten atau informasi dengan kecakapan kognitif, etika, sosial emosional dan aspek teknis atau teknolog” (Sari, 2023).

Apabila kita merujuk pada pengertian diatas, literasi digital tidak hanya mencakup kemampuan mencari, menggunakan, dan menyebarkan informasi, akan tetapi diperlukan kemampuan dalam membuat sebuah informasi, mengevaluasi secara kritis, ketepatan penggunaan aplikasi yang digunakan, serta pemahaman yang mendalam dalam mengolah informasi yang terdapat pada konten digital tersebut.

Sedangkan penyebaran hoax di media sosial menjadi semakin masif akibat cepatnya media sosial dalam menyebarkan informasi kepada para pengguna media sosial. Menurut Najwa Sihab dalam sebuah webinar yang dilansir dari media akurat.co mewabah nya hoax di Indonesia sendiri salah satu penyebabnya adalah kurangnya minat baca masyarakat Indonesia sehingga budaya membaca secara fisik dengan buku-buku belum menjadi sebuah kultur yang tetap sebagai kebutuhan yang mendasar. Indonesia yang belum selesai dengan pembiasaan literasi membaca dihadapkan dan dipaksa untuk beralih ke budaya baca digital. Padahal, budaya membaca digital bahkan literasi digital diperlukan kemampuan literasi yang kuat. Dan masyarakat Indonesia masih rentan, karena belum mampu memilah dan memilih informasi yang tepat dan sesuai kebutuhan. Pada akhirnya, masyarakat Indonesia mudah terprovokasi berita hoax yang menyebabkan disinformasi (Beribe, 2020).

Memahami Literasi Budaya

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa literasi budaya adalah kemampuan seseorang dalam memahami kebudayaan Indonesia sebagai sebuah identitas bangsa. Kemendikbud mencoba untuk mensosialisasikan literasi budaya dengan tujuan setiap warga negara tidak terdistrucksi oleh perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang begitu pesat. Cepatnya informasi melalui media sosial membuat para generasi millennial dan generasi z mengalami ancaman perubahan prilaku sosial yang lebih individual akibat komunikasi yang instan tanpa harus bertatap muka. Akan tetapi kemajuan teknologi juga diharapkan mampu menjual nilai budaya Indonesia yang unik dan beragam.

Negara Indonesia sebagai bagian dari dunia, memiliki peran untuk terlibat langsung dalam kancah perkembangan dan perubahan global. Kelebihan Indonesia yang terkenal dengan beragam budaya dengan perilaku masyarakatnya yang lebih humanis diharapkan mampu berperan dalam menuntun peradaban dan keadilan dunia. Seperti apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa dalam perumusan UUD bahwa Indonesia ikut andil dalam menjaga perdamaian dunia. Oleh karena itu, kemampuan masyarakat dalam menerima perubahan zaman akibat pengaruh dunia digital harus disikapi dengan bijaksana dan cerdas. Hal ini perlu dilakukan atas dasar kesadaran penuh masyarakat.

Kemampuan untuk memahami keberagaman dan tanggung jawab sebagai warga negara harus dimiliki oleh setiap individu di abad 20-an ini. Sikap toleransi terhadap keberagaman yang lahir dari semboyan bhineka tunggal ika menjadi benteng kuat terhadap perpecahan yang disebabkan oleh informasi hoax untuk memecah belah umat. Untuk itu, literasi budaya dan kewargaan dianggap penting untuk diajarkan di tingkat sekolah, keluarga dan masyarakat terutama untuk generasi millennial dan generasi z yang lahir di era serba digital ini.

Implementasi Literasi Digital Dan Kebudayaan

Fenomena disinformasi menurut Misalkar (2015) ada dua. Pertama, pengaruh IoT sebagai sumber informasi bagi generasi millennial dan generasi z. Kedua, faktor hate speech yang menimbulkan dampak di masyarakat. Fenomena ditimbulkan dengan penyebaran berita hoax di media sosial secara masif dan konsisten.

Fenomena disinformasi akibat perkembangan teknologi yang memudahkan akses para oknum tertentu untuk menyebarkan informasi yang tidak akurat membuktikan semakin sulitnya prediksi pola pikir dan nilai moral generasi modern ini. Maka diperlukan pendidikan dasar tentang literasi digital untuk menguatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang informasi yang bisa diterima atau penggunaan media sosial dan teknologi yang tepat untuk menghindari nilai negatif yang disampaikan oleh oknum tertentu.

Tidak hanya generasi millennial atau generasi z yang harus diberikan pemahaman terhadap literasi digital ini, melainkan generasi sebelumnya diikut sertakan untuk berperan dalam memahami literasi digital ini. Peran generasi sebelumnya adalah menanamkan nilai moral dan kebudayaan kepada generasi modern agar tetap bisa bersikap bijak dalam penggunaan digital di era sekarang ini.

Literasi budaya sebagai aspek pembentukan karakter memiliki peran penting dalam menyikapi disinformasi akibat berita hoax yang beredar secara masif di masyarakat melalui media sosial. Pembentukan karakter ini dapat dilakukan di tiga wilayah, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui dukungan budaya tempat dimana seseorang tinggal. Adapun dalam implementasi literasi digital dan budaya di dunia pendidikan bisa dilaksanakan dengan susunan dan rancangan yang terorganisir, terstruktur, dan sistematis yang sering kita sebut sebagai kurikulum pembelajaran. Di dunia pendidikan pula penguatan literasi membaca terhadap buku-buku fisik lebih dikuatkan untuk memenuhi kebutuhan pelajar terhadap budaya membaca yang tetap dan konsisten. Sehingga penerapan literasi digital dan kebudayaan semakin mudah untuk dipahami oleh generasi z saat ini yang terdampak penuh oleh perkembangan teknologi yang kontradiktif dan konspiratif.

Kesimpulan Dan Saran

Dibalik dampak positif dari perkembangan teknologi dan media digital untuk mengakses informasi dan pengetahuan yang tidak terbatas, ternyata masyarakat Indonesia sejatinya belum siap untuk menghadapi perkembangan zaman yang serba digital ini.

Terbukti bahwa dampak negatif lebih banyak dalam kehidupan masyarakat terutama pada generasi modern adalah nilai karakter, budaya, dan provokasi akibat penyebaran hoax di media sosial yang menyebabkan konflik pada masyarakat. Pengelolaan informasi yang tidak tepat dan penyalahgunaan masyarakat terhadap aplikasi teknologi digital menyebabkan disinformasi yang bersifat fatal sampai pada kemerosotan moral dan degradasi keilmuan generasi modern.

Untuk menanggulangi hal ini, diperlukan implementasi terhadap literasi digital dan budaya sebagai upaya penurunan akhlak dan moral yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi. Diperlukan kerjasama antar segmen untuk mengimplementasikan hal ini diantaranya; segmen keluarga dan lingkungan sebagai pembentukan dasar karakter yang kuat terhadap individu dan dunia pendidikan untuk mengokohkan dasar-dasar literasi digital dengan menguatkan literasi membaca dan kurikulum pendidikan yang terstruktur. Dengan melakukan tindakan diatas maka kita mampu mengurangi dampak disinformasi yang diakibatkan berita hoax kepada masyarakat terutama generasi modern yang terdampak secara langsung oleh arus globalisasi digital.

Adapun saran yang penulis ingin sampaikan adalah pengadaan seminar dan pelatihan literasi digital dan bahaya disinformasi kepada masyarakat terutama anak muda baik yang sedang mengenyam pendidikan secara formal atau organisasi kepemudaan yang ada di setiap daerah yang ada. Kedua, perbanyak buku bacaan sejarah dan kebudayaan di setiap sekolah serta kebijakan wajib masuk perpustakaan untuk anak SD sampai SMA sebagai penguatan dasar literasi membaca. Yang ketiga, sosialisasi terhadap kader-kader keluarga berencana tentang pentingnya peran orang tua terhadap pembentukan karakter anak sejak dini dan bahaya penggunaan gadget yang berlebihan untuk anak.

*Mahasiswa UIN Jakarta 

Daftar Pustaka

Beribe, S. B. (2020). Tingkatkan Literasi, Cegah Hoax dengan Membaca. Akurat.Co. https://www.akurat.co/trend/1302212642/Tingkatkan-Literasi- Cegah-Hoax-dengan-Membaca?page=2

Pratiwi, A., & Asyarotin, E. N. K. (2019). Implementasi literasi budaya dan kewargaan sebagai solusi disinformasi pada generasi millennial di Indonesia. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 7(1), 65–80. https://doi.org/10.24198/jkip.v7i1.20066

Sari, I. W. (2023). Implementasi Litersi Digital Pada Era Kurikulum Merdeka. Seminar Nasional Lppm Ummat, 2(April), 155–159. http://journal.ummat.ac.id/index.php/semnaslppm/article/view/14228%0Ahttps://journal.ummat.ac.id/index.php/semnaslppm/article/viewFile/14228/6714


Share this Post


<<<<<<< HEAD <<<<<<< HEAD ======= >>>>>>> f902b896b279fe8af3d7392c5207ae31e03aa809 ======= >>>>>>> 70ec2052fce7e2bb279029a8783020c8d4ba3a9d